Jumat, 08 Juni 2012

Hubungan Remaja Dengan Orang Tua


BAB I
PENDAHULUAN

Masa remaja seringkali dihubungkan dengan mitos dan stereotip mengenai penyimpangan dan tidakwajaran. Hal tersebut dapat dilihat dari banyaknya teori-teori perkembangan yang membahas ketidakselarasan, gangguan emosi dan gangguan perilaku sebagai akibat dari tekanan-tekanan yang dialami remaja karena perubahan-perubahan yang terjadi pada dirinya maupun akibat perubahan lingkungan.
            Sejalan dengan perubahan-perubahan yang terjadi dalam diri remaja, mereka juga dihadapkan pada tugas-tugas yang berbeda dari tugas pada masa kanak-kanak. Sebagaimana diketahui, dalam setiap fase perkembangan, termasuk pada masa remaja, individu memiliki tugas-tugas perkembangan yang harus dipenuhi. Apabila tugas-tugas tersebut berhasil diselesaikan dengan baik, maka akan tercapai kepuasan, kebahagian dan penerimaan dari lingkungan. Keberhasilan individu memenuhi tugas-tugas itu juga akan menentukan keberhasilan individu memenuhi tugas-tugas perkembangan pada fase berikutnya.
            Hurlock (1973) memberi batasan masa remaja berdasarkan usia kronologis, yaitu antara 13 hingga 18 tahun. Menurut Thornburgh (1982), batasan usia tersebut adalah batasan tradisional, sedangkan alran kontemporer membatasi usia remaja antara 11 hingga 22 tahun.
            Perubahan sosial seperti adanya kecenderungan anak-anak pra-remaja untuk berperilaku sebagaimana yang ditunjukan remaja membuat penganut aliran kontemporer memasukan mereka  dalam kategori remaja. Adanya peningkatan kecenderungan para remaja untuk melanjutkan sekolah atau mengikuti pelatihan kerja (magang) setamat SLTA, membuat individu yang berusia 19 hingga 22 tahun juga dimasukan dalam golongan remaja, dengan pertimbangan bahwa pembentukan identitas diri remaja masih terus berlangsung sepanjang rentang usia tersebut.
            Dalam pengantar diatas dapat saya tarik rumusan masalahnya antara lain; apa saja yang menjadi permasalahan dalam perkembanagan remaja itu? Dan bagaimana hubungan antara perkembangan remaja dengan orangtua?  Dan bertujuan untuk mengetahui pemasalahan yang terjadi pada remaja, serta mengetahui hubungan perkembangan remaja dan orangtua.
BAB II
PERKEMBANGAN REMAJA DAN HUBUNGANNYA DENGAN ORANGTUA

A.    Perkembangan Remaja
1.      Perkembangan Potensial
Kelompok remaja dapat dikenali dari potensinya yang dahsyat. Pada umumnya remaja tidak mengenal rasa takut bahkan cenderung nekad sehingga banyak aktivitas mereka yang menyentuh bahaya atau bersinggungan dengan bahaya, misalnya, memanjat tebing, mendaki gunung, olahraga balap, tinju, menjelajah gua, atau bertualang ke hutan belantara. Mereka mendirikan kelompok-kelompok atau perkumpulan-perkumpulan (gangs) untuk mengaktualisasikan identitas kelompok mereka. Jika aspirasi mereka tersumbat atau mendapatkan rintangan, mereka mengajukan protes atau melakukan perlawanan dengan hebat tanpa memperhitungkan risiko yang akan ditimbulkan akibat tindakan mereka yang tanpa perhitungan.
2.      Perkembangan Emosional
Masa remaja selalu berhubungan dengan berbagai pergolakan emosional yang belum stabil. Ada keyakinan diri, kegelisahan, iri hati, malu, harga diri, dan emosi lainnya yang dulu muncul sewaktu kanak-kanak, sekarang menjadi bagian penting dari kehidupan mereka. Emosi sosial yang sudah muncul ketika berusia enam tahun sangat penting dalam menunjang pergaulan mereka dengan teman-teman sebayanya. Emosi remaja juga dapat dikenali dari berkembangnya perasaan atau emosi baru seperti romantisme, cemburu, cinta, sedih, atau perasaan kesepian.
3.      Perkembangan Psikososial
Ketika anak-anak memasuki masa remaja, terjadi perubahan karena pertumbuhan fisik mereka yang berkembang sangat pesat. Pada masa ini, dorongan seksual muncul dengan kuat dan wajah mereka mulai mengarah kepada bentuk dewasa. Perubahan fisiologis ini diikuti pula oleh perubahan psikologis, yakni berkembangnya mental mereka.
4.      Perkembangan Intelektualitas
Beberapa remaja sudah terlihat kehebatan intelektualitas mereka dalam berbagai bidang pemikiran dan perasaan sehingga mampu melahirkan karya-karya bermutu dalam bidang seni, sains, dan teknologi. Menurut Jean Piaget, kelompok remaja berada pada tahap operasional formal, dan merupakan tahap terakhir dari perkembangan kognisi. Perkembangan yang sehat dan normal membuat mereka mampu memecahkan masalah-masalah dengan menggunakan berbagai alternatif dan memahami berbagai masalah yang kompleks dan rumit. Fokus mereka adalah: kemampuan berpikir secara abstrak dan berpikir secara hipotetis.
5.      Perkembangan Moral
Menurut Lawrance E. Kohlberg, remaja dapat dikenali dari moral mereka yang berorientasi kepada membangun dan membina hubungan saling menguntungkan (mutual interpersonal relationship). Bagi mereka moralitas yang baik adalah hidup yang bermanfaat bagi orang lain, misalnya, berguna bagi saudara, teman-teman, masyarakat, melaksanakan peraturan, menjaga ketertiban, dan seterusnya.
6.      Perkembangan Psikoseksual
Menurut pengamatan Freud, pada usia remaja perkembangan psikoseksual mereka berada pada tahapan genitalia. Fokusnya adalah ketertarikan terhadap lawan jenis dan energi seksual diarahkan terhadap organ genital. Dorongan seksual yang besar menyebabkan remaja mencari pemuasannya. Berdasarkan psikoanalisa Freud, fase genital berlangsung sejak masa pubertas sampai meninggal dunia. Fase genital sangat dipengaruhi oleh fase pragenital. Artinya,jika tahapan sebelumnya berhasil dilewati dengan baik, tahapan genital akan berlangsung dengan baik, tetapi jika fase tahapan pragenital mengalami masalah, tahapan genital juga akan bermasalah.[1]

B.     Tugas perkembangan remaja
Tugas perkembangan remaja menurut Havighurst dalam Gunarsa (1991) antara lain :
1.    memperluas hubungan antara pribadi dan berkomunikasi secara lebih dewasa dengan kawan sebaya, baik laki-laki maupun perempuan
2.    memperoleh peranan social
3.    menerima kebutuhannya dan menggunakannya dengan efektif
4.    memperoleh kebebasan emosional dari orangtua dan orang dewasa lainnya
5.    mencapai kepastian akan kebebasan dan kemampuan berdiri sendiri
6.    memilih dan mempersiapkan lapangan pekerjaan
7.    mempersiapkan diri dalam pembentukan keluarga
8.    membentuk sistem nilai, moralitas dan falsafah hidup[2]
Erikson (1968, dalam Papalia, Olds & Feldman, 2001) mengatakan bahwa tugas utama remaja adalah menghadapi identity versus identity confusion, yang merupakan krisis ke-5 dalam tahap perkembangan psikososial yang diutarakannya. Tugas perkembangan ini bertujuan untuk mencari identitas diri agar nantinya remaja dapat menjadi orang dewasa yang unik dengan sense of self yang koheren dan peran yang bernilai di masyarakat (Papalia, Olds & Feldman, 2001).
Untuk menyelesaikan krisis ini remaja harus berusaha untuk menjelaskan siapa dirinya, apa perannya dalam masyarakat, apakah nantinya ia akan berhasil atau gagal yang pada akhirnya menuntut seorang remaja untuk melakukan penyesuaian mental, dan menentukan peran, sikap, nilai, serta minat yang dimilikinya.
Tugas perkembangan ada dalam setiap tahap kehidupan. Tidak hanya untuk remaja namun dari kanak-kanak hingga dewasa lanjut.Setiap tahap kehidupan memang telah memiliki tugas perkembangannya masing-masing. Tugas perkembangan remaja perlu diketahui para remaja agar dapat dijadikan acuan bagi masa berikutnya yaitu masa dewasa dan perlu diketahui pula oleh para orangtua dan guru agar dapat membimbing putra-putri/murid-muridnya untuk dapat melewati masa-masa “penuh badai” tersebut dengan baik .


C.    Permasalahan Remaja
 Tidak semua remaja dapat memenuhi tugas-tugas tersebut dengan baik. Menurut Hurlock (1973) ada beberapa masalah yang dialami remaja dalam memenuhi tugas-tugas tersebut, yaitu:
  1. Masalah pribadi, yaitu masalah-masalah yang berhubungan dengan situasi dan kondisi di rumah, sekolah, kondisi fisik, penampilan, emosi, penyesuaian sosial, tugas dan nilai-nilai.
  2. Masalah khas remaja, yaitu masalah yang timbul akibat status yang tidak jelas pada remaja, seperti masalah pencapaian kemandirian, kesalahpahaman atau penilaian berdasarkan stereotip yang keliru, adanya hak-hak yang lebih besar dan lebih sedikit kewajiban dibebankan oleh orangtua.
Elkind dan Postman (dalam Fuhrmann, 1990) menyebutkan tentang fenomena akhir abad duapuluh, yaitu berkembangnya kesamaan perlakuan dan harapan terhadap anak-anak dan orang dewasa. Anak-anak masa kini mengalami banjir stres yang datang dari perubahan sosial yang cepat dan membingungkan serta harapan masyarakat yang menginginkan mereka melakukan peran dewasa sebelum mereka masak secara psikologis untuk menghadapinya. Tekanan-tekanan tersebut menimbulkan akibat seperti kegagalan di sekolah, penyalahgunaan obat-obatan, depresi dan bunuh diri, keluhan-keluhan somatik dan kesedihan yang kronis.
Lebih lanjut dikatakan bahwa masyarakat pada era teknologi maju dewasa ini membutuhkan orang yang sangat kompeten dan trampil untuk mengelola teknologi tersebut. Ketidakmampuan remaja mengikuti perkembangan teknologi yang demikian cepat dapat membuat mereka merasa gagal, malu, kehilangan harga diri, dan mengalami gangguan emosional.
Bellak (dalam Fuhrmann, 1990) secara khusus membahas pengaruh tekanan media terhadap perkembangan remaja. Menurutnya, remaja masa kini dihadapkan pada lingkungan dimana segala sesuatu berubah sangat cepat. Mereka dibanjiri oleh informasi yang terlalu banyak dan terlalu cepat untuk diserap dan dimengerti. Semuanya terus bertumpuk hingga mencapai apa yang disebut information overload. Akibatnya timbul perasaan terasing, keputusasaan, absurditas, problem identitas dan masalah-masalah yang berhubungan dengan benturan budaya.
Uraian di atas memberikan gambaran betapa majemuknya masalah yang dialami remaja masa kini. Tekanan-tekanan sebagai akibat perkembangan fisiologis pada masa remaja, ditambah dengan tekanan akibat perubahan kondisi sosial budaya serta perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang demikian pesat seringkali mengakibatkan timbulnya masalah-masalah psikologis berupa gangguan penyesuaian diri atau ganguan perilaku. Beberapa bentuk gangguan perilaku ini dapat digolongkan dalam delinkuensi.
Perkembangan pada remaja merupakan proses untuk mencapaikemasakan dalam berbagai aspek sampai tercapainya tingkat kedewasaan. Proses ini adalah sebuah proses yang memperlihatkan hubungan erat antara perkembangan aspek fisik dengan psikis pada remaja.[3]
D.    Hubungan Remaja dengan Orang Tua
Menurut Steinberg (dalam Santrock, 2002: 42) mengemukakan bahwa masa remaja awal adalah suatu periode ketika konflik dengan orang tua meningkat melampaui tingkat masa anak-anak. Peningkatan ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor yaitu perubahan biologis pubertas, perubahan kognitif yang meliputi peningkatan idealism dan penalaran logis, perubahan sosial yang berfokus pada kemandirian dan identitas, perubahan kebijaksanaan pada orang tua, dan harapan-harapan yang dilanggar oleh pihak rang tua dan remaja.
“Menurut pendapat saya dengan menanggapi pembahasan hubungan remaja dan orangtua kebanyakan ialah pada masa remaja itu banyak membangkang, atau egois kepada orangtua. Dengan adanya rasa kebebasan itu remaja merasa ingin mencoba berontak untuk mencari identitas diri. Hubungannya atau peran orangtua itu seharusnya lebih bias mengerti kondisi si Anak Remaja tersebut, sehingga anak Remaja pun merasa di perhatikan dan dianggap ada.”
Collins (dalam Santrock, 2002: 42) menyimpulkan bahwa banyak orang tua melihat remaja mereka berubah dari seorang anak yang selalu menjadi seseorang yang tidak mau menurut, melawan, dan menantang standar-standar orang tua. Bila ini terjadi, orang tua cenderung berusaha mengendalikan dengan keras dan member lebih banyak tekanan kepada remaja agar mentaati standar-standar orang tua.
Dari uraian tersebut, ada baiknya jika kita dapat mengurangi konflik yang terjadi dengan orang tua dan remaja. Berikut ada beberapa strategi yang diberikan oleh Santrock, (2002: 24) yaitu : 1) menetapkan aturan-aturan dasar bagi pemecahan konflik. 2) Mencoba mencapai suatu pemahaman timbale balik. 3) Mencoba melakukan corah pendapat (brainstorming). 4) Mencoba bersepakat tentang satu atau lebih pemecahan masalah. 5) Menulis kesepakatan. 6) Menetapkan waktu bagi suatu tindak lanjut untuk melihat kemajuan yang telah dicapai.
Berdasarkan uraian tersebut maka peneliti menyimpulkan bahwa karakteristik remaja atau proses perkembangan remaja meliputi masa transisi biologis yaitu pertumbuhan dan perkembangan fisik. Transisi kognitif yaitu perkembangan kognitif remaja pada lingkungan sosial dan juga proses sosioemosional dan yang terakhir adalah masa transisi sosial yang meliputi hubungan dengan orang tua, teman sebaya, serta masyarakat sekitar. Berikut Sikap-sikap orangtua terhadap remaja:
  1. Perhatian orangtua kepada Anak Remaja
Hubungan Remaja dan orang tua serta peran orang tua dalam perkembangan sampai masa remaja sangat penting. Menurut Newman (dalam Rice,1999), remaja menginginkan orang tua yang menaruh perhatian dan siap membantu apabila remaja membutuhkan bantuan serta mendengarkan dan berusaha mengerti sebagai remaja; menunjukan bahwa mereka menyetujui remaja ; menerima apa adanya; memperlakukan sang remaja dengan dewasa dan yang paling penting menjadi teladan baik bagi remaja.
Dalam setiap keluarga ada nilai-nilai atau aturan yang harus dipegang atau ditaati oleh setiap anggota keluarga termasuk anak remaja itu sendiri. Namun bila setiap aturan tidak disampaikan dengan baik maka akan terjadi pelanggaran-pelanggaran. Dalam komunikasi itulah setiap aturan atau nilai-nilai keluarga disampaikan. Keluarga yang memiliki kekurangdekatan hubungan antar anggota keluarga, hubungan yang tidak harmonis dalam keluarga, akan sangat sulit membicarakan hal ini dalam keluarga dan memungkinan timbulnya delikuensi pada anak remaja.[4]
  1. Realita Hubungan Orangtua Dan Anak Remaja
Salah satu pemicunya adalah sikap orangtua yang masih menganggap ”Anak Baru Gede (ABG)” selayaknya anak kecil, sementara sebaliknya kaum remaja mengkultuskan diri sudah dewasa, mampu untuk mengatur diri sendiri. Mungkin disinilah letak muara permasalahannya, tetapi kedepannya janganlah biarkan semua ini semakin berlarut-larut.
Penyebab lainnya adalah masih banyak orang tua dan guru yang belum memahami secara benar wawasan mengenai HIV/AIDS, Kesehatan Reproduksi dan Narkoba. Selain itu, cara komunikasi dan penyampaian orang tua dan guru yang cenderung masih kaku dan tidak terbuka turut memegang andil, hingga remaja kemudian menganggap komunikasi “CurHat (Curahan Hati)” dengan teman sebayanya adalah yang paling ideal, hanya fakta informasi yang didapat sering kali tidak proporsional dan keliru.
Tak heran bila kejadian kriminal, penyalahgunaan Narkotika, hubungan seksual di luar nikah dan lainnya yang dilakukan oleh remaja meningkat terus setiap tahunnya, tanpa ada harapan untuk menurun. Maka fenomena remaja tersebut bisa membuat dunia ini menjadi tempat berkumpulnya generasi yang “Sakit”.
Tidak percaya! Data UNAIDS (2006) sendiri menunjukkan, sekitar 50 persen pengidap HIV di dunia ada pada kelompok usia di bawah 25 tahun dari total saat ini sekitar 44 juta kasus. Dan fakta Di Departemen Kesehatan Republik Indonesia, hingga September 2003 dari sekitar 3.924 kasus HIV/AIDS, lebih dari 50 persen berusia di bawah 29 tahun atau sebagian besar terinfeksi adalah kelompok remaja (15–24 tahun). Sedangkan Bali, berdasarkan data awal tahun 2006 jumlah penderita sebagian besr menyerang usia produktif terutama kelompok pelajar remaja (14-19 tahun) sekitar 22 ODHA. Lebih mencengangkan, kalau semenjak ditemukannya kasus HIV/AIDS pertama di Bali pada tahun 1987, ternyata remaja (15-29 tahun) adalah kelompok terbesar pengidap HIV/AIDS dibandingkan kelompok usia lain (KPAD Bali, 2006) yang sebagian besar diakibatkan dari kecanduan dan penyalahgunaan narkoba, serta aktivitas seksual aktif yang bebas dalam bertukar pasangan.
3.    Usaha Responsif Orang Tua
Banyak kiat yang bisa diamalkan orangtua demi terciptanya keharmonisan dengan anak remajanya. Oleh karena itu, ditawarkan beberapa solusi yang bisa dianalogikan cerminan opini kaum remaja guna tercapai realita hubungan yang sehat dengan orang tuanya.
Diawali dengan usaha untuk menciptakan dan menjaga hubungan komunikasi yang baik antara orangtua dengan anak remajanya. Orangtua sebaiknya berinisiatif lebih awal untuk membuka obrolan dengan anak remajanya. Bicarakan masalah psikologis yang terjadi, berilah kepercayaan dan wujudkan keterbukaan, ”demokrasi dalam rumah”.
Kedua, cobalah untuk responsif bahwa remaja bersikap menentang disebabkan emosinya yang masih belum mantap. Kadangkala remaja merasa sudah dewasa untuk menentukan keinginan hidupnya, tanpa perlu mengindahkan rambu-rambu larangan. Maka haruslah diberikan kepercayaan disertai pertimbangan untuk memilah dan memilih keputusan yang bertanggung jawab dengan segala resikonya.
Selanjutnya adalah pahamilah gaya hidup remaja dengan sifat ingin tahu yang tinggi, suka coba-coba, iseng, gaul, trendy dan gagah-gagahan. Waspadalah bahwa berbagai sifat remaja tersebut, bisa saja malah menjerumuskan remaja kearah yang salah, terutama berkaitan dengan seks dan narkoba. Padahal remaja sendiri belum menyadari sepenuhnya dampak dari tingkah laku tersebut, sehingga bahayanya bisa memicu kerentanan terhadap resiko tertular infeksi menular seksual (IMS) bahkan penyebaran HIV/AIDS di kalangan remaja. Sudah saatnya orangtua membuka dialog yang lebih mengerti dunia remaja.
Keempat, perlakukan remaja dengan selayaknya dan janganlah otoriter!. Jangan memperlakukan seperti ”bayi raksasa”, karena remaja sering merasa dirinya telah dewasa. Non otoriter (Otoritatif) bisa dicoba ketika remaja tertarik kepada lawan jenis. Hendaknya orangtua menyadari bahwa masa pacaran hanyalah suatu proses perkenalan saja.
Tak kalah penting adalah menanamkan sifat sabar, jikalau remaja terlihat mulai doyan berbohong ataupun suka kritis terhadap nasehat hidup, janganlah melabraknya langsung. Ciptakan atmosfer untuk memberikan kesempatan kepada remaja memahami kesalahan dan bagaimana memperbaikinya. Hendaknya jangan ”ringan tangan” atau terkesan mendesak agar segera mengakui kesalahannya. Ingat, semakin dilarang maka semakin penasaran remaja untuk mendobrak aturan tersebut.
Perlu diingat bahwa tidak ada remaja yang 100% penurut dan berperilaku sesuai keinginan orang tua. Suatu saat bila remaja pulang larut malam karena ”gaul” dengan teman-temannya, sebaiknya masih dapat diterima, asalkan dengan alasan yang wajar dan telah meminta ijin sebelumnya. Tapi tetap terapkan disiplin dengan aturan yang tegas, lengkap dengan konsekuensinya jika masih melanggar dikemudian hari. Ini penting untuk membentuk karakter remaja yang bertanggung jawab.
Kemudian berusahalah mentransfer pengalaman-pengalaman hidup orangtua yang sesuai. Kaum Remaja sudah cukup siap dan mampu secara serius mempelajari masalah sosial dan mempertanyakan nilai moral secara lebih mendalam.
Dan hal terakhir yang bisa ditawarkan kepada orang tua adalah jangan lupa secara intensif mendorong remaja untuk melakukan aktivitas sosial dan segala kesibukan positif lainnya yang bermanfaat untuk meningkatkan rasa percaya diri. Cara lainnya adalah tidak melarang realisasi hobi, mengembangkan potensi dan minat-bakat remaja sepanjang itu menyenangkan dan positif.
4.    Cobalah Percaya Pada Remaja!
Tiap-tiap Orangtua punya cara tersendiri dalam mengasuh anaknya. Maccoby, seorang psikolog menyatakan bahwa terdapat dua pola asuh Orang Tua, yaitu ”Parental Demandiness” berupa tuntutan orangtua terhadap anaknya dan ”Parental Responsiveness” mencerminkan responsivitas orangtua terhadap kebutuhan anaknya. Keduanya idealisme tersebut diharapkan berjalan dengan porsi yang seimbang dalam kehidupan rumah tangga. Tidak lupa bekalilah remaja dengan pondasi citra diri yang kuat agar remaja tidak mudah terpengaruh pengaruh buruk pergaulan bebas di masyarakat dan lingkungannya.[5]
E.     Peran Orang Tua Dalam Pembentukan Identitas Remaja
Salah satu aspek penting yang harus diperhatikan dalam perjalanan hidup seorang remaja adalah pembentukan identitasnya. Salah satu identitas diri yang harus dimiliki oleh setiap remaja adalah tata nilai. Melalui sistem tata nilai yang dianutnya, seorang remaja mengungkapkan siapa, mengapa, dan bagaimana dia sebagai sosok pribadi. Dapat dikatakan, setiap remaja adalah pribadi yang unik dan khas sehingga memiliki identitas diri atau tata nilai yang belum tentu sama dengan identitas atau tata nilai yang dianut remaja lain.
Sistem tata nilai sebagai identitas remaja merupakan pengajaran melalui pembelajaran, pengalaman, atau peniruan sehingga selalu terbuka kemungkinan kekeliruan atau pemahaman lain. Tata nilai bukanlah dogma yang bersifat absolut dan statis, melainkan sistem pengaturan atau penataan hidup yang bersifat kenyal (fleksibel) dan dinamis. Tata nilai sebagai salah satu identitas remaja mengatur pola hidup, tingkah laku ke dalam maupun ke luar, sekaligus sebagian landasan moral maupun spiritual dalam melakukan interaksi, menata hidup, melakukan perenungan hidup, menciptakan remaja yang berkepribadian, dan memiliki budi pekerti yang luhur.
Tata nilai seorang remaja terbentuk oleh banyak faktor, baik internal maupun eksternal. Fakto-faktor internal adalah keluarga inti yang terdiri dari ayah, ibu, kakak, atau adik. Patut dicatat bahwa dalam sistem kekerabatan budaya timur, faktor keluarga merupakan inti pembentukan tata nilai seorang remaja. Faktor-faktor eksternal adalah semua faktor di luar keluarga inti dan keluarga besar, misalnya, budaya, agama, sekolah, lingkungan, atau ideologi. Unsur-unsur ini diproses di dalam diri sehingga menghasilkan reaksi maupun refleksi.[6]
Sumber utama tata nilai keluarga adalah orang tua. Sebagai kepala keluarga orang tua mempunyai otoritas terhadap pembentukan dan penentuan sistem tata nilai keluarga. Pengajaran tata nilai yang lebih mengedepankan kelimpahan materi dan kemakmuran ekonomi akan mendorong anak-anak remaja setelah dewasa menjadi hamba keserakahan, dan ketamakan. Hati nurani mereka tumpul dan menilai sesama berdasarkan kemampuan dan kekuatan ekonomi semata.
1.      Keluarga sebagai sebuah sistem
Keluarga adalah sebuah sistem yang digerakan oleh anggotanya berdasarkan asas saling menghormati, menghargai, dan mendukung peranan masing-masing sehingga tercipta sinergi dan keteraturan. Adanya aturan main membuat keluarga terus-menerus mengalami perubahan dan secara instink setiap anggota keluarga bereaksi terhadap perubahan tersebut.
Keluarga sebagai sebuah sistem merupakan tempat seorang remaja membentuk dan mengembangkan kepribadian dan karakter. Betapa pentingnya keluarga sebagai sebuah sistem terlihat dari banyaknya variasi produk rumah tangga yang menjadi komponen pembentuk masyarakat. Betapa banyak rumah tangga dewasa ini yang mengalami disfungsi karena masing-masing anggotanya sebagai komponen yang menggerakan sistem rumah tangga bermasalah dengan anggota yang lain atau dengan dirinya sendiri.
Sistem keluarga bisa dihancurkan oleh pribadi-pribadi yang miskin tenggang rasa, tidak peduli, atau mementingkan diri sendiri. Dalam kenyataan sehari-hari, sering kali keluarga-keluarga itu sendiri hancur berantakan akibat orang-orang di dalam keluarga itu sendiri menghancurkannya. Seperti apa pun baiknya sebuah sistem keluarga dirancang tidak akan memberi manfaat dan tidak akan bertahan lama jika individu-individu yang terlibat di dalamnya tidak mendukungnya, sebaliknya malah menghancurkannya dari dalam.
2.      Peran ayah sebagai pembentuk identitas
Seorang ayah merupakan panutan dalam segala hal bagi anak-anaknya. Melalui perilakunya anak-anaknya belajar tentang falsafah hidup. Tidak bisa dipungkiri, seorang ayah adalah kebanggaan bagi anak-anaknya. Anak-anak remaja bangga jika ayah mereka memiliki pendirian yang teguh, komitmen yang tidak mudah goyah, emosi yang terkendali, konsep diri yang kuat, perencanaan hidup yang cemerlang, dan mentalitas yang tangguh. Seorang ayah memainkan peran yang sangat besar terhadap pembentukan tata nilai anak remajanya karena peran ayah sebagai sentral keluarga biasanya lebih dominan di dalam keluarga.
3.      Beberapa kelemahan ayah
Ayah adalah figur kekuatan dana kekuasaan di dalam keluarga. Ia merupakan simbol wibawa dan kedaulatan keluarga. Personifikasi dirinya mendorong keberanian anggota keluarganya untuk menantang berbagai persoalan hidup. Tetapi, tidak ada ayah yang sempurna di dunia ini sehingga mampu memainkan perannya secara sempurna tanpa pernah melakukan kesalahan. Beberapa kesalahan yang seringkali dilakukan ayah adalah bertindak otoriter, sering tergesa-gesa, malu mengakui kelemahannya, atau melanggar peraturan yang dia tetapkan sendiri.
4.      Peran ibu sebagai pembentuk identitas
Kodrat selalu dekat dengan kelemah-lembutan, cinta, dan kasih-sayang. Itulah citra perempuan yang membuatnya menjadi tempat bagi anak-anaknya untuk mendapatkan kehangatan cinta dan kasih-sayang. Intinya seorang ibu berperan sebagai pengasuh yang memberikan rasa nyaman bagi anak remajanya. Pada wajah ibu selalu terpancar kesejukan yang memberikan kedamaian yang membuat setiap remaja menemukan dermaga tempat untuk melabuhkan hati yang sedang gundah gulana. Ibu merupakan penerjemah utama sifat, kepribadian, maupun integritas ayah. Artinya, pengaruh ibu sangat besar terhadap pembentukan persepsi anak-anak tentang ayah mereka.
5.      Beberapa kelemahan ibu
Kaum ibu adalah ibarat mata rantai, kelemahannya terletak pada kekuatannya atau sebaliknya kekuatannya terletak pada kelemahannya. Demikian halnya, para ibu di seluruh dunia tampaknya memiliki persamaan kelemahan, yakni tidak tega, mudah terharu, ragu-ragu, mudah larut dalam suasana emosional, tidak berani mengambil keputusan strategis, atau mudah dipengaruhi anak-anaknya.
BAB III
PENUTUP


Kesimpulan
1.        Salah satu aspek penting yang harus diperhatikan dalam perjalanan hidup seorang remaja adalah pembentukan identitasnya. Dalam pembentukan identitas, peranan orang tua sangat penting dan diperlukan karena mereka adalah teladan yang akan menjadi model bagi anak-anak remaja mereka. Bagaimanapun, orang tua adalah model yang paling mudah untuk ditiru oleh mereka. Artinya, apa yang diajarkan orang tua, akan merupakan identitas mereka menuju masa depan.
2.         Orang tua yang bijaksana tidak akan membiarkan anak remajanya berjalan sesuka hati menuruti kehendaknya sendiri. Perlu rambu-rambu dan batasan-batasan peraturan yang tidak boleh dilanggar oleh mereka. Oleh karena itu, walaupun kurang menyenangkan, tetapi untuk membentuk kehendak remaja supaya tertib dan tingkah lakunya terkendali, diperlukan cara pendisiplinan yang keras dan tegas.
3.        Peran orang tua sangatlah peting bagi perlindungan remajanya terhadap pergaulan bebas, karena orang tua adalah orang yang paling pertama kali mendidik atau mengajarakan anaknya dari usia dini hingga dewasa.

DAFTAR PUSTAKA

Hurlock, Elizabeth, B.,. 2006. Psikologi Perkembangan, Jakarta: Erlangga
Sarwono, Sarlito W. 1991. Psikologi Remaja. Jakarta : Rajawali Press
Gunarsa, Singgih. 1990. Dasar & Teori Perkembangan Anak. Jakarta : PT BPK Gunung mulia
L. Dzulkifli, 1992. Psikologi Perkembangan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya
Prawirosudirjo, Garnadi. Menginjak Masa Remaja, Jakarta : Bhratara Karya Aksara, 1997
http://kesehatan.kompasiana.com/ibu-dan-anak/2011/10/29/alasan-remaja-malas-berkomunikasi-dengan-orang-tua/
http://arfinurul.blog.uns.ac.id/2010/05/10/perkembangan-emosi-pada-remaja/
http://psikonseling.blogspot.com/2009/03/psikologi-perkembangan-pada-remaja.html
http://indo.hadhramaut.info/view/3766.aspx
Surbakti, EB. Kenakalan Orang Tua Penyebab Kenakalan Remaja. Elex Media   Komputindo.
 http://belajarpsikologi.com/karakteristik-remaja/




[1] L. Dzulkifli, 1992. Psikologi Perkembangan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Hal. 65-66

[2] http://indo.hadhramaut.info/view/3766.aspx
[3] Sarwono, Sarlito W. 1991. Psikologi Remaja. Jakarta : Rajawali Press
[4]http://kesehatan.kompasiana.com/ibu-dan-anak/2011/10/29/alasan-remaja-malas-berkomunikasi-dengan-orang-tua/
[6] Surbakti, EB. Kenakalan Orang Tua Penyebab Kenakalan Remaja. Elex Media   Komputindo. Hal. 125-126

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar